Angklung adalah alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat, yang terbuat dari potongan bambu. Alat musik ini terdiri dari 2 sampai 4 tabung bambu yang dirangkai menjadi satu dengan tali rotan. Tabung bambu diukir detail dan dipotong sedemikian rupa untuk menghasilkan nada tertentu ketika bingkai bambu digoyang. Dalam sejarahnya, angklung tradisional biasa digunakan dalam upacara penyembahan kepada Nyai Sri Pohaci (Dewi Padi) dan Seren Taun untuk keberkahan padi dan menghormati hasil panen. Di lingkungan Kerajaan Sunda (abad ke 12 – abad ke16) , Angklung dimainkan sebagai bentuk pemujaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Sri (dewi padi/dewi kesuburan), Selain itu, konon Angklung juga merupakan alat musik yang dimainkan sebagai pemacu semangat dalam peperangan, sebagaimana yang diceritakan dalam Kidung Sunda. Namun, kini angklung digunakan secara luas sebagai hiburan dan tidak terbatas pada ritual tertentu saja.
Kata angklung sendiri berasal dari bahasa Sunda angkleung-angkleungan yaitu gerakan pemain angklung, serta dari suara klung yang dihasilkan instrumen bambu ini. Secara etimologis angklung berasal dari kata “angka” yang berarti nada dan “lung” yang berarti pecah. Jadi, angklung merujuk pada nada yang pecah atau tidak lengkap. Angklung sebenarnya merupakan pengembangan dari alat musik calung, yaitu tabung bambu yang dipukul. Sementara, angklung merupakan tabung bambu yang digoyang sehingga menghasilkan hanya satu nada untuk setiap instrumennya.
Dua tokoh yang berperan dalam perkembangan Angklung di Jawa Barat adalah Daeng Soetigna sebagai Bapak Angklung Diatonis Kromatis dan Udjo Ngalagena yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog dan salendro.

Sumber : https://www.setneg.go.id/baca/index/angklung_sebagai_representasi_diplomasi_budaya_indonesia

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Udjo_Ngalagena
Pada tahun 1938, Daeng Soetigna seorang seniman angklung asal Pameungpeuk Garut, menciptakan angklung dengan tangga nada diatonis. Angklung inovasi Daeng Sutigna tersebut berbeda dengan angklung pada umumnya yang berdasarkan tangga nada tradisional pelog atau salendro. Inovasi inilah yang kemudian membuat Angklung dengan leluasa bisa dimainkan harmonis bersama alat-alat musik Barat, bahkan bisa disajikan dalam bentuk orkestra.
Setelah Daeng Soetigna, salah seorang muridnya, Udjo Ngalagena, meneruskan usaha Sang Guru mempopulerkan Angklung temuannya, dengan jalan mendirikan “Saung Angklung” di daerah Bandung. Hingga hari ini, tempat yang kemudian dikenal sebagai “Saung Angklung Udjo” tersebut masih menjadi pusat kreativitas yang berkenaan dengan Angklung. Pengunjung tidak hanya dapat melihat berbagai jenis angklung, tapi juga belajar proses pembuatan angklung.

Sumber : https://kemenparekraf.go.id/ragam-ekonomi-kreatif/Pertunjukan-Kolosal-Saung-Angklung-Mang-Udjo-yang-Mendunia
Seiring perkembangan angklung, sejak November 2010, UNESCO telah menetapkan angklung sebagai Karya Agung Warisan Seni Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia. Hari Angklung Sedunia diperingati setiap tanggal 16 November.
Sumber:
- https://disdik.purwakartakab.go.id/berita/detail/angklung?/berita/detail/angklung
- https://www.setneg.go.id/baca/index/angklung_sebagai_representasi_diplomasi_budaya_indonesia
- https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/angklung-warisan-budaya-sunda-kebanggaan-indonesia/
- https://kemenparekraf.go.id/ragam-ekonomi-kreatif/Pertunjukan-Kolosal-Saung-Angklung-Mang-Udjo-yang-Mendunia
- https://id.wikipedia.org/wiki/Udjo_Ngalagena
