Seni Pembuatan Kapal yang masuk sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda UNESCO

UNESCO memutuskan bahwa seni pembuatan kapal pinisi dari Sulawesi Selatan terpilih sebagai Warisan Budaya Tak Benda (Intangible Cultural of Humanity). Hal tersebut telah ditetapkan di Paris, Perancis pada Kamis 7 Desember 2017. Kapal Pinisi diakui telah menjadi bagian seni berlayar wilayah kepulauan yang tak ternilai. Pembuatan Kapal Pinisi masih bisa ditemui di beberapa wilayah Sulawesi Selatan, yaitu di Tana Beru, Bira, dan Batu Licin di Kabupaten Balukumba.

Kapal Pinisi dikenal sebagai salah satu kapal yang telah ada sejak tahun 1500an dan banyak digunakan oleh para pelaut Bugis, Konjo dan Mandar di Sulawesi Selatan untuk membawa rempah-rempah dan tekstil khas Nusantara melewati rute perdagangan kuno.

Penamaan pinisi pada jenis kapal ini tidak diketahui secara jelas asal-usulnya. Terdapat dua teori mengenai hal ini. Teori pertama menyatakan bahwa pinisi berasal dari kata Venecia, sebuah kota pelabuhan di Italia. Kemudian karena dialek Konjo, Vencia berubah penyebutan menjadi penisi, selanjutnya seiring berjalannya waktu mengalami proses fonetik menjadi pinisi. Pengambilan nama kota tersebut diperkirakan karena kebiasaan orang Bugis Makassar mengabadikan nama tempat terkenal atau mempunyai kesan istimewa kepada benda kesayangannya, termasuk perahu. Sementara teori kedua berpendapat bahwa nama pinisi berasal dari kata panisi yang memiliki arti sisip. Mappanisi (menyisip) yaitu menyumbat semua persambungan papan, dinding, dan lantai perahu dengan bahan tertentu agar tidak kemasukan air. Dugaan tersebut berdasar pada pendapat yang menyatakan bahwa orang Bugis yang pertama menggunakan perahu pinisi. Lopi dipanisi’ (Bugis) artinya perahu yang disisip. Diduga dari kata pinisi mengalami proses fonetik hingga menjadi pinisi.

Patung Kapal Pinisi
Sumber : https://balaibahasasulsel.kemdikbud.go.id/duta-bahasa/pindai-pandai-pin-pan/bahasa-bugis/kapal-pinisi/

Rangkaian proses pembuatan Kapal Pinisi merefleksikan nilai sosial dan budaya kehidupan sehari-hari, yaitu kerja bersama, bekerja keras, keindahan, serta penghargaan terhadap lingkungan alam. Teknik pembuatan Kapal Pinisi juga sangat memperhatikan ketelitian dari sisi teknik dan navigasi. Ciri khasnya adalah berupa layar dan dua tiang utama. Untuk pembuatan sebuah kapal pinisi tak sembarang, karena membutuhkan bahan baku kayu dari hutan yang memiliki jenis kayu tertentu. Kayu tersebut dipilih dengan kemampuan yang tidak mudah pecah, kedap air, dan tidak dimakan kutu air. Jenis kayu yang dipakai adalah Kayu Suryan (Vitoe Canvansus Reinw). selain itu ada empat jenis kayu yang biasanya digunakan untuk membuat kapal pinisi, yaitu kayu besi, kayu bitti, kayu kandole/punaga, dan kayu jati. Saat ini pembuatan Kapal Pinisi sudah sangat berkurang karena kayu yang berkualitas sudah sangat sulit ditemukan. Selain jenis kayu, umur kayu tersebut juga diperhatikan. Untuk membuat sebuah kapal pinisi yang besar dibutuhkan kayu berumur 50 tahun dan untuk pembuatan kapal pinisi kecil dibutuhkan kayu berumur 25 tahun.

Proses Pembuatan Kapal Pinisi
Sumber: https://pariwisata.kepulauanselayarkab.go.id/2014/10/menyinggahi-pembuat-perahu-phinisi-di-bulukumba/

Proses pembuatan kapal pinisi terbagi dalam tiga tahap:

Pertama, dimulai dari penentuan hari baik untuk mencari kayu untuk membuat kapal pinisi. Biasanya, “hari baik” mencari kayu jatuh pada hari ke-5 atau ke-7 pada bulan pembuatan kapal. Pemilihan hari ini melambangkan rezeki yang ada di tangan, dan selalu mendapat rezeki. 

Kedua, pembuatan kapal pinisi masuk ke proses menebang, mengeringkan, dan memotong kayu. Kayu-kayu tersebut kemudian dirakit menjadi setiap bagian kapal pinisi. Tahap kedua inilah yang memakan waktu lama, bahkan hingga berbulan-bulan.

Ketiga, proses peluncuran kapal pinisi ke laut. Namun, sebelum diluncurkan, biasanya diadakan upacara maccera lopi, atau menyucikan kapal pinisi. Upacara ini ditandai dengan kegiatan menyembelih sapi atau kambing. Dengan perhitungan, jika bobot kapal kurang dari 100 ton, maka yang disembelih adalah kambing, sedangkan kalau di atas 100 ton berarti sembelih sapi.

Sumber: